Telekomsel’s HSDPA service peaks during evenings
This article has some interesting number about the usage of HSDPA-based Internet access. Telekomsel’a Mobile Broadband unit states that the high-peak perido of usage of their mobile broadband service (called Telekomsel Flash) is from 7PM to midnight. These are connections made from homes and cafes.
Out of the 50 million cellular customer, about 50,000 are high-speed Internet users. The HSDPA-based service is present in 20 cities, while their 3G network is present in about 80 cities in Indonesia.
Telekomsel plans to increase their capacity. They want to increase their downlink speeds from 3,6 Mbps to 7,2 Mbps, and to increase their uplink speed from 384 Kbps to 1,4 Mbps.
§
Minggu, 16/03/2008 10:45 WIB
Trafik Tertinggi Internet 3G Malam Hari
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Copyright DetikNet 2008
Jakarta - Berdasarkan pengalaman Telkomsel selaku penyelenggara Internet 3G, trafik penggunaan yang tercatat paling tinggi ternyata pada malam hari.
Arif dari divisi Mobile Broadband Telkomsel mengungkapkan waktu sibuk atau peak time penggunaan layanan akses tersebut mulai dari pukul 19.00 WIB sampai dengan 24.00 WIB.
“Mayoritas pelanggan Internet 3G kami mengakses dari rumah dan kafe,” ujarnya kepada detikINET di sela aktivitas gathering Telkomsel Flash Community di Cilandak Town Square, akhir pekan ini.
Telkomsel yang mempunyai 50 juta lebih pelanggan seluler, mencatatkan 50 ribu pengguna aktif akses layanan internet kecepatan tinggi 3G HSDPA Telkomsel Flash.
Untuk menunjang aktivitas pelanggan ketika mengakses Internet kecepatan tinggi, Telkomsel sendiri berencana memperkuat jaringan pita lebar HSDPA miliknya tahun ini di seputar area perumahan dan kafe-kafe tersebut.
Hingga kini, Telkomsel mengklaim telah melayani 20 kota di Indonesia dengan jaringan berbasis HSDPA dan 80 kota dengan jaringan 3G. Dalam satu dua bulan mendatang, operator tersebut akan meningkatkan kecepatan HSDPA-nya dari speed downlink 3,6 Mbps menjadi 7,2 Mbps, dan speed uplink dari 384 Kbps menjadi 1,4 Mbps. ( rou / rou )
Telkomsel has yet to implement Number Portability
Apparently Telkomsel has yet to implement Number Portability services which would allow consumers to move to different operators while keeping their phone numbers.
The VP of Marketing dan CRM of Telkomsel (Mr. Hendri Mulya Sjam) says they have not discussed number portability internally. He also says that number portability will result in the need to equalize prices between on-net and off-net calls. (On-net refers to calls made to other customers on the same operator, while off-net means calls to different operators). Operators have had discussions regarding number portability among themselves, but consider the problem difficult to solve.
§
Some operators consider number portability as “bad” for competition. Hence their lack of interest in implementing this feature, despite being advantageous for consumers. Perhaps this is something the Government can address on behalf of consumers.
§
Selasa, 11/03/2008 17:47 WIB
Telkomsel Belum akan Adopsi Number Portability
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Copyright 2008 DetikNet
Jakarta - Telkomsel mengaku belum berencana mengimplementasikan sistem penomoran portabel (number portability). Vice President Marketing dan CRM Telkomsel Hendri Mulya Sjam mengatakan, pihaknya belum membahas masalah tersebut secara internal.
“Masih jauh, apalagi itu kan masih sebatas wacana”, tuturnya di sela peluncuran program diskon 60% Kartu As, di kantor pusat Telkomsel, Wisma Mulia, Jakarta, Selasa (11/3/2008).
Jika sistem number portability diimplementasikan, maka pelanggan seluler nantinya bisa menggunakan layanan telekomunikasi operator tertentu secara bebas tanpa perlu mengganti nomor atau kartu. Namun masalahnya, dengan diimplementasikannya number portability, skema pentarifannya nanti akan menjadi satu, tidak ada lagi perbedaan tarif antara on-net dan off-net. “Itu yang harus dipikirkan,” tukasnya.
Sebelumnya, wacana soal implementasi number portability sempat diperdebatkan oleh kalangan operator karena sulit diterapkan. Namun persaingan antaroperator dalam menawarkan layanan telekomunikasi dinilai akan semu jika belum mengadopsi sistem penomoran portabel tersebut.
Salah satu anggota BRTI Heru Sutadi menilai, adopsi number portability akan menjadi dilematis. Di satu sisi, konsep tersebut sangat berpihak kepentingan masyarakat sebab akan memberi pilihan bagi masyarakat dalam memilih operator yang memberi tarif layanan lebih baik dan lebih murah. Namun adopsi number portability juga tidak bisa dilepaskan dari bagaimana pasar telepon tetap dan bergerak di suatu negara. ( dwn / dwn )
